Industri konstruksi di Asia Tenggara, yang menunjukkan pertumbuhan kuat dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 6,2% dari 2024 hingga 2028, kini menjadi sasaran utama ancaman siber pada Sistem Kontrol Industri (ICS).
Di Indonesia, khususnya, sektor konstruksi diperkirakan akan mencapai USD305,48 miliar pada 2025 dan berpotensi naik menjadi USD 438,56 miliar pada 2030, didukung pemanfaatan teknologi digital seperti AI dan otomatisasi untuk efisiensi lebih besar.
Namun, pertumbuhan ini juga dibarengi dengan peningkatan risiko siber. Data terbaru Kaspersky untuk kuartal pertama (Q1) 2025 di Asia Tenggara menunjukkan peningkatan persentase objek berbahaya yang diblokir di komputer ICS pada sektor konstruksi dan manufaktur.
Sementara itu, sektor otomatisasi bangunan memiliki persentase 1,2 kali lebih tinggi, sektor tenaga listrik 1,2 kali lebih tinggi, dan sektor teknik dan integrator ICS 1,2 kali lebih tinggi. Secara keseluruhan, kawasan Asia Tenggara menempati peringkat kedua secara global berdasarkan persentase komputer ICS yang diblokir objek berbahayanya, yaitu sebesar 29,1%.
Hia menambahkan bahwa seiring perusahaan konstruksi merangkul teknologi digital, ada keseimbangan antara risiko dan peluang, dengan bisnis harus melakukan mitigasi ancaman secara komprehensif melalui peluang baru untuk memperkuat lapisan perlindungan dan ketahanan mereka.
Selain itu, Hia juga berpendapat bahwa perangkat industri digital dapat menjadi target serangan siber pada tahun 2025 dan seterusnya karena langkah keamanan yang sudah ketinggalan zaman. Hia menjelaskan bahwa fasilitas jarak jauh yang mengandalkan peralatan jaringan murah sangat rentan terhadap eksploitasi.
Untuk itu, Hia menegaskan bahwa merevisi langkah keamanan siber dari teknologi lama dan yang telah teruji waktu menjadi lebih penting dari sebelumnya. Hia juga menekankan pentingnya melihat keamanan siber sebagai investasi dalam kelangsungan bisnis, bukan hanya biaya.